Sabtu, 27 Oktober 2012 - 22:57:15 WIB
Nutrisi pada Geriatri (Sambungan)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Referat Coas - Dibaca: 10400 kali

Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia2

  • Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong.
  • Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
  • Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
  • Rasa lapar menurun, asam lambung menurun
  • Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi
  • Penyerapan makanan di usus menurun.

 Makanan Sehat Lansia1

Makanan sehat bagi lansia antara lain mencakupi empat sehat lima sempurna dengan porsi yang kurang dari orang dewasa kecuali asupan protein dan vitamin serta mineral, dimana kalsium dan zat besi juga memerankan peranan yang penting untuk metabolisme tubuh. Berikut ini disajikan beberapa contoh makanan sehat untuk manula yang telah dikelompokkan:

  • Sumber Karbohidrat: Nasi, jagung, ketan, bihun, biskuit, kentang, mie instan, mie kering, roti tawar, singkong, talas, ubi jalar, pisang nangka, makaroni
  • Sumber Protein Hewani: Daging ayam, daging sapi, hati (ayam atau sapi), telur unggas, ikan mas, ikan kembung, ikan sarden, bandeng, baso daging
  • Sumber Protein Nabati: Kacang tanah, kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, tahu, tempe, oncom
  • Buah-buahan: Pepaya, belimbing, alpukat, apel, jambu biji, jeruk, mangga, nangka, pisang ambon, sawo, semangka, sirsak, tomat
  • Sayuran: Bayam, buncis, beluntas, daun pepaya, daun singkong, katuk, kapri, kacang panjang, kecipir, sawi, wortel, selada
  • Kue: Bika ambon, dadar gulung, getuk lindri, apem, kroket, kue pia, kue putu, risoles
  • Susu: Susu sapi, susu kambing, susu kerbau, susu kedelai, skim 

Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :

Kelompok zat energi.

  1. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti, singkong dll, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu
  2. Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu dan hasil olahannya.
  3. Kelompok zat pembangun

Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein,baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

Kelompok zat pengatur

Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.

Menu harian untuk lansia

Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk lansia yang sehat, menu sehari-hari hendaknya :

  1. Tidak berlebihan, tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan lansia.
  2. Bervariasi jenis makanan dan cara olahnya
  3. Membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan (menempel pada bahan pangan, terutama pangan hewani)
  4. Membatasi konsumsi gula dan minuman yang banyak mengandung gula
  5. Menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak, merokok dan minuman beralkohol
  6. Cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat (buah-buahan, sayuran dan sereal) untuk menghindari sembelit atau konstipasi
  7. Minuman yang cukup.

Menu makanan manula dalam sehari dapat disusun berdasarkan konsep ‘4 sehat 5 sempuna” atau “Konsep gizi seimbang”diantaranya :

  • Kelompok makanan pokok (utama) : nasi (1 porsi= 200 gram)
  • Kelompok lauk pauk : daging (1 potong= 50 gram), tahu (1 potong = 25 gr)
  • Kelompok sayuran : bayam (1 mangkok = 1001 gr)
  • Kelompok buah-buahan : pepaya (1 potong = 100 gr) dan susu (1 gelas = 100 gr)

Kelompok makanan dan jenis makanan

  • Karbohidrat : nasi, jagung, ketan, bihun, biskuit, kentang, mie, roti, singkong, talas, ubi-ubian, pisang, nangka, makaroni
  • Protein hewani : daging sapi, daging ayam, hati (ayam atau sapi), telur unggas, ikan, baso daging
  • Protein nabati : kacang-kacangan, tahu, tempe, oncom
  • Buah-buahan : pepaya, belimbing, alpukat, apel, jambu biji, jeruk, mangga, nangka, pisang, awo, sirsak, semangka
  • Sayuran : bayam, buncis, beluntas, daun pepaya, daun singkong, katuk, kapri, kacang panjang, kecipir, sawi, wortel, selada
  • Makanan jajanan : bika ambon, dadar gulung, getuk lindri, apem, kroket, kue putu, risoles
  • Susu : susu kambing, susu kedelai, skim

Pemantauan Status Gizi Lansia1,5

Penapisan gizi dilakukan untuk mengetahui apakah seorang lansia mempunyai resiko mengalami malnutrisi akibat penyakit yang diderita dan atau perawatan di rumah sakit. Penapisan gizi dapat dilakukan dengan Subjective Global Assessment (SGA) atau Mini Nutritional Assessment (MNA). SGA merupakan metoda yang banyak dipakai karena sangat sederhana dan mudah dalam pelaksanaannya.SGA meliputi wawancara dan pengamatan mengenai berat badan dan perubahan berat badan selama 6 bulan dan 2 minggu terakhir, ada tidaknya gangguan gastrointestinal, ada tidaknya gangguan fungsional, status metabolic dari penyakit, ada tidaknya muscle wating dan edema. Kesimpulan pemeriksaan SGA adalah menggolongkan pasien dalam keadaan status gizi baik, beresiko malnutrisi atau malnutrisi berat. MNA mempunyai 2 bagian besar yaitu screening dan assessment, dimana penjumlahan semua skor akan menentukan lansia pada status gizi baik, beresiko malnutrisi atau beresiko underweight. Penelitian pada 1145 lansia di rumah sakit di Swiss menunjukkan skor MNA rendah berhbungan dengan peningkatan mortalitas pasien lansia di RS.

Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan fisik

Berbagai kelainan akibat kurang gizi dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik, antaa lain kehilangan lemak subkutan, ulkus dekubitus karena kekurangan protein dan energy, edema akibat kekurangan protein, penyembuhan luka yang lambat karena defisiensi seng dan vitamin C dan parestesia akibat defisiensi vitamin B6.

Manifestasi klinis yang sering dijumpai pada lansia adalah gangguan keseimbangan cairan, khususnya dehidrasi. Dehidrasi pada lansia dapat berupa peningkatan suhu tubuh, penurunan volume kencing, penurunan tekanan darah, mual, muntah, mental confusion dan gagal ginjal akut.

Pemantauan status nutrisi dalam hal ini juga dapat dilakukan dengan:

Penimbangan Berat Badan

  • Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai
  1. peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu.
  2. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan
  3. penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.
  • Menghitung berat badan ideal pada dewasa :

Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)

Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB

kurang dari 160 cm, digunakan rumus :

Berat badan ideal = TB dalam cm – 100

Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih

Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang

Kekurangan kalori protein

Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman,  kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.

Kekurangan vitamin D

Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari,jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

Keterbatasan fisik

Status gizi dapat dipengaruhi oleh fungsi tubuh yang berhubungan dengan pola makan. Misalnya, berkurangnya fungsi indra penglihatan dan pendengaran seringkali menyebabkan seorang lansia merasa terisolasi dan berakibat pada penurunan selera dan asupan makan.

Gigi geligi yang tanggal atau terdapat karies, penyakit pada gusi dan penurunan saliva yang berakibat mulut kering (xerostomia) akan mempengaruhi pemilihan makanan dan dapat menurunkan asupan zat gizi. Perubahan indera perasa dan penciuman akibat infeksi saluran nafas berulang dan penggunaan obat-obatan jangka panjang juga dapat mempengaruhi asupan amakanan lansia. Gangguan fungsi menelan (disfagia) pada lansia umumnya merupakan proses patologis pada susunan saraf dan memerlukan pengelolaan gizi yang tepat.

Masalah gastrointestinal yang sering ditemui adalah intoleransi makanan termasuk didalamnya intoleransi laktosa, dan alergi makanan dapat ditemui pada lansia. Meskipun banyak dijumpai pada dewasa muda, namun gluten sensitivity enteropathy (celiac disease) dapat ditemui pada individu usia 70 tahun atau lebih dengan gejala yang tidak khas seperti lemah, anemia ringan. Semua produk makanan yang mengandung gluten harus dihilangkan dari makanan penderita. Dispepsia pada lansia ditandai dengan nyeri ulu hati, rasa penuh/sebah. Penyebabnya antara lain konsumsi obat seperti aspirin, anti inflamasi, konsumsi makanan alcohol yang berlebihan dan stress psikologis. Kelainan-kelainan pada saluran cerna ini juga akan menurunkan asupan makanan dan status gizi lansia.

Berbagai penyakit kronis yang diderita lansia dan pengobatan yang diberikan juga mengganggu asupan makan lansia. Sehingga berbagai obat yang dikonsumsi oleh lansia baik dari resep dokter, obat bebas dan jamu harus dinilai pengaruhnya terhadap asupan makanan seorang lansia.

Pemeriksaan fungsional

Gangguan fungsi pada kemampuan untuk berbelanja, menyiapkan makanan dan makan secara mandiri dapat mengganggu asupan makan seorang lansia. Seorang lansia yang daoat bergerak bebas di dalam rumah akan dapat menyiapkan makanan sesuai yang diinginkan, sedangkan lansia yang menderita stroke, misalnya, tidak dapat bergerak bebas untuk menyiapkan makanan sesuai seleranya, sehingga hanya bergantung kepada orang lain untuk makan.

Fungsi kognitif dan psikologis juga menentukan status gizi lansia. Sebagian besar kehilangan berat badan pada lansia disebabkn oleh depresi. Anoreksia, mual dan muntah dapat disebabkan pemberian polifarmasi. Berkurangnya fungsi ingatan juga dapat mengurangi asupan seorang lansia.

Pengukuran Antropometri

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu pengukuran antropometri yang bnyak dilakukan untuk mengevaluasi status gizi lansia. IMT yang rendah berhubungan dengan penurunan kemampuan fungsional dan peningkatan mortilitas pada lansia. Berbagai pengukuranb lain seperti tebal lemak bawah kulit (pengukuran skinfold) juga dapat dipakai untuk penentuan status gizi lansia.

Pemeriksaan Laboratorium

Protein

Pengukuran simpanan protein tubuh seperti serum albumin, transferin dan total iron binding capacity (TIBC) sering dipakai untuk mengukur status gizi lansia. Hipoalbumin merupakan predictor yang baik untuk defisiensi protein pada lansia. Namun, albumin banyak terpengaruh pada status hidrasi, fungsi hati dan adanya penyakit ginjal atau saluran cerna pada lansia yang menyebabkan kehlangan protein. Sehingga, penentuan status gizi pada lansia dengan menggunakan serum albumin harus dilakukan setelah faktor-faktor lain disingkirkan. Waktu paruh albumin yang panjang (14-20 hari) menjelaskan mengapa serum albumin bereaksi lambat terhadap terapi.

Kolesterol

Serum kolesterol yang rendah pada lansia juga merupakan indicator status gizi yang kurang pada lansia.

Assessmen Diet

Metoda pengukuran asupan gizi pada lansia yang tepat sangat sulit karena keterbatasan fisik dan psilogis dari lansia. Food Frequency Questionnaire (FFQ) yang sederhana dapat digunakan untuk menilai asupan gizi lansia. Pada lansia yang mampu menulis dapat digunakan 3-day record, dimana dengan metoda ini seorang lansia diminta menuliskan apa saja yang dikonsumsi dalam 3 hari (2 hari biasa dan 1 hari libur). Recall 24 jam juga sering dipakai untuk menilai status gizi lansia. Namun, karena keterbatasan fungsi ingatan pada lansia, metoda ini dianggap kurang sahih.

Dari pemeriksaan tersebut diatas, maka disusun diagnois gizi pada lansia. Berdasarkan diagnosis gizi tersebut, diberikan intervensi gizi yang sesuai

Masalah Gizi pada Lansia6,8

Kehilangan berat badan

Kehilangan berat badan pada lansia dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian besar yaitu:

  1. Wasting, kehilangan berat badan yang tidak disadari, pada umumnya karena asupan yang tidak adekuat. Asupan yang tidak adekuat disebabkan oleh penyakit maupun faktor psikososial.
  2. Cachexia, kehilangan massa tubuh bebas lemak yang tidak disadari yang disebabkan oleh proses katabolisme, ditandai oleh peningkatan rate metabolik dan peningkatan pemecahan protein.
  3. Sarcopenia, kehilangan massa otot yang tidak disadari sebagai bagian dari proses menua. Kadang-kadang tidak ada penyakit yang mendasari.

Faktor resiko terjadinya malnutrisi pada lansia antara lain beberapa faktor medis seperti selera makan rendah, gangguan gigi geligi, disfagia, gangguan fungsi pada indera penciuman dan pengecap, pernafasan, saluran cerna, neurologi, infeksi, cacat fisik dan penyakit lain sepeti kanker.

Kurangnya pengetahuan mengenai asupan makanan yang baik bagi lansia, kesepian karena terpisah dari sanak keluarga dan kemiskinan juga menentukan status gizi lansia.

Adanya faktor psikologis seperti depresi, kecemasan dan demensia mempunyai kontribusi yang besar dalam menentukan asupan makanan dan zat gizi seorang lansia.

Pada lansia yang dirawat di rumah sakit, beberapa keadaan seperti makanan rumah sakit dengan pilihan dan rasa makanan yang kurang disukai, waktu makan terbatas, tidak mampu makan mandiri, pemandangan, suara dan bau di sekitar yang tidak menyenangkan, kebutuhan meningkat karena penyakitnya, puasa untuk prosedur pemeriksaan faktor dapat menjadi faktor resiko terjadinya malnutrisi.

Kehilangan Massa Otot

Pada proses menua, seseorang akan kehilangan massa otot; hal ini lebih nyata terlihat pada perempuan. Penurunan massa otot dan massa sel tubuh disertai dengan penurunan kekuatan otot serta gangguan fungsi kekebalan tubuh dan fungsi paru-paru. Penurunan kekuatan otot ini merupakan penyebab sebagian besar ketidakmampuan orang lanjut usia dalam berbagai hal, diantaranya kemampuan berjalan. Penyebab kehilangan massa otot ini hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah kurangnya aktivitas fisik dan hormone pertumbuhan yang disertai kekurangan gizi (terutama kekurangan energy dan protein) serta penyakit dan proses menua.

Obesitas

Masalah yang sering ti,bul pada orang usia lanjut adalah kelebihan berat badan dan obesitas. Perubahan komposisi tubuh yang terjadi pada lansia memberikan kontribusi terjadinya obesitas terutama obesitas sentral. Proporsi lemak intra abdominal meningkat progresif dengan meningkatnya usia. Penurunan asupan energi dan TEE juga menurun karena penurunan aktifitas fisik terutama pada lansia yang sakit dan BMR. Pada lansia yang obes, penurunan berat badan dapat menurunkankesakitan karena arthritis, diabetes, dan menurunkan resiko penyakit cardiovaskular dan meningkatkan kualitas hidup. Peningkatan aktifitas fisik pada lansia dapat memperbaiki kekuatan otot dan kesehatan lansia secara keseluruhan.

Kegemukan pada lanjut usia dapat dicegah melalui olahraga secara teratur dan membatasi makanan yang padat energy. Pemeliharaan berat badan dalam batas-batas normal pada orang lanjut usia diperlukan untuk menjaga kekuatan fisik, daya tahan terhadap infeksi, serta pencegahan penurunan mutu kulit dan mutu kehidupan.

Osteoporosis

Setelah usia 30 tahun, seorang individu mulai kehilangan massa tulangnya. Pada wanita, kehilangan massa tulang akan semakin meningkatsetelah menopause, sehingga lansia wanita mempunyai resiko tinggi untuk patah tulang (osteoporosis tipe I) . Pada lansia laki-laki, juga mempunyai resiko untuk menderita patah tulang pada usia sangat lanjut, yaitu setelah 70 tahun (osteoporosis tipe II).

Osteoporosis dapat dicegah dengan asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, olahraga dan menghindari merokok dan minum-minuman beralkohol. Bila sudah terjadi osteoporosis, penatalaksanaan yang dapat dilakukan antara lain menurunkan resorpsi tulang dengan terapi sulih hormon dan biphosponat atau menstimuli pembentukan tulang dengan pemberian fluorida, calcitonin, dan calcitriol.

Anemia Gizi

Anemia gizi dapat terjadi pada lansia karena asupan makanan yang menurun atau efek samping obat-obatan. Pada umumnya lansia yang mempunyai berat badan rendah juga menderita anemia. Anemia gizi yang terjadi pada lansia pada umumnya adalah anemia defisiensi besi, meskipun anemia vitamin B12 (anemia perniciosa) juga sering ditemui. Sumpelementasi besi dan vitamin B12 dapat diberikan pada lansia, diberikan mulai dosis rendah dan dapat dinaikkan secara bertahap untuk menghindari efek samping obat. Pemberian makanan sumber zat besi dan vitamin B12 dengan asupan kalori dan protein yang cukup membantu mengatasi anemia defisiensi besi dan vitamin B12.

BAB III: PENUTUP

A.  Kesimpulan

Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Dengan bertambahnya umur, kemampuan kita dalam mengecap, mencerna, menyerap dan memetabolisme makanan akan berubah

Status nutrisi seseorang akan berpengaruh terhadap setiap sistem tubuh. Kebutuhan asupan kalori sehari-hari yang disarankan (Recommended Daily Allowance [RDA]) pada lansia yang berusia 65 sampai 75 tahun 2300 kkal. RDA untuk lansia di atas usia 75 tahun diturunkan menjadi 2050 kkal, konsumsi kalori dari karbohidrat kompleks yang diharuskan sebanyak 55 sampai 65% dan kurang dari 30% lemak, serta porsi sisanya adalah protein. Angka kecukupan gizi rata-rata orang tua di Indonesia disesuaikan menurut Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 2004.

Makanan sehat bagi lansia tentunya perlu diperhatikan untuk mencapai status gizi lansia yang baik dan sesuai dengan kebutuhan di usia mereka. Makanan sehat bagi lansia antara lain mencakupi empat sehat lima sempurna dengan porsi yang kurang dari orang dewasa kecuali asupan protein dan vitamin serta mineral.

Tidak hanya cukup sampai pemenuhan kebutuhan nutrisi pada lansia, pemantauan juga perlu dilakukan secara cermat untuk memantau perkembangan yang ada. Penapisan gizi dilakukan untuk mengetahui apakah seorang lansia mempunyai resiko mengalami malnutrisi akibat penyakit yang diderita dan atau perawatan di rumah sakit. Penapisan gizi dapat dilakukan dengan Subjective Global Assessment (SGA) atau Mini Nutritional Assessment (MNA)

B.  Saran

Patut diingat bahwa keperluan energi MANULA sudah menurun, jadi jangan disediakan seperti masih belum berusia lanjut. Ada baiknya bila mereka dijaga jangan sampai menjadi kegemukan karena akan lebih mudah menderita berbagai kelainan atau penyakit gizi yang berhubungan dengan kondisi obesitas. Frekuensi penyakit Diabetes Mellitus, Cardiovascular diseases terdapat meningkat pada kelompok MANULA.

Masalah gizi pada manula seperti kehilangan berat badan, obesitas, osteoporosis, kehilangan massa otot dan anemia gizi perlu diperhatikan karena hal ini berkaitan erat dengan gizi pada manula dan dapat menentukan kualitas hidup mereka di usia tua.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Available at http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/ KEBUTUHAN%20NUTRISI%20DAN%20CAIRAN%20%20PADA%20LANSIA.pdf
  2. Available at http://www.scribd.com/doc/31812812/Kebutuhan-Gizi-Pada-Lanjut-Usia
  3. Sudoyo, W.Aru dkk. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam : Nutrisi pada geriatric. Jakarta: pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dala FKUI; 2006.
  4. Martono, H. Hadi dan Kris Panarka. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut); Gizi pada Lansia; Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2009.
  5. Martono, H. Hadi dan Kris Panarka. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut; Aspek Fisiologik dan Patologik Akibat Proses Menua; Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2009.
  6. Soekirman, Prof. Dr. dkk. Hidup Sehat: Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Primamedia Pustaka; 2006
  7. Ayuningtyas, Febrina. Tugas keperawatan gerontik: Nutrisi pada Usia Lanjut. Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Malang. 2009
  8. Almatsier, Sunita dkk. Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2011.

Credit to Bonita Asyigah, S.Ked, Dokter Muda FK Unsri Palembang





344 Komentar :

diabetes cure ride
12 Mei 2015 - 23:30:21 WIB

Balancing your weight loss with exercise will help you avoid the eating disorders many
type 2 diabetics struggle with.
best paid survey sites
13 Mei 2015 - 07:48:42 WIB

Hello there! I could have sworn I've visited this web site before but
after looking at a few of the articles I realized it's new to me.
Regardless, I'm definitely delighted I came across it and
I'll be bookmarking it and checking back often!
Hacktool Clash of Clans
13 Mei 2015 - 09:51:39 WIB

Just wish to say your article is as astonishing.
The clarity for your put up is simply cool and i could assume you are knowledgeable in this subject.
Well along with your permission let me to grab your RSS feed to
stay up to date with forthcoming post. Thanks one million and please keep up
the gratifying work.
fat burning kitchen book
13 Mei 2015 - 10:29:09 WIB

Hello, after reɑding his awesome paragraph i am tօo cheerful to sharе mmy knowledge herе with mates.
Clash of Clans Hack Gems Online
14 Mei 2015 - 00:40:14 WIB

Very soon this site will be famous amid all blog people, due to it's
pleasant posts
get paid to take surveys
14 Mei 2015 - 06:50:19 WIB

Wow! This blog looks exactly like my old one! It's on a entirely different subject but it has
pretty much thhe same layout and design. Outstanding choice of colors!
http://geohotspot.com
14 Mei 2015 - 10:47:18 WIB

I am familiar to many because of my involvement in the diabetes online community
(DOC).
noleggio auto lecce
14 Mei 2015 - 11:49:36 WIB

Hi there mates, how is everything, and what you wish for to say concerning this
article, in my view its in fact awesome in support of me.
crostata alla nutella
15 Mei 2015 - 02:11:21 WIB

I’m not that much of a internet reader to be honest but your sites really nice,
keep it up! I'll go ahead and bookmark your website to come back later
on. All the best
adozione bambini
15 Mei 2015 - 05:24:43 WIB

Your style is very unique in comparison to other people I
have read stuff from. I appreciate you for posting when you have the opportunity,
Guess I'll just book mark this page.
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | ... | 35 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)